Oleh: Ustadz Andreas Askhab Firdaus
(Guru Pondok Pesantren Pelajar dan Mahasiswa (PPPM) Nurul Huda Banyuwangi)
Ramadan ibarat sebuah lari maraton spiritual. Banyak yang tampak antusias dan berjejal di garis start, namun pemenang sejatinya adalah mereka yang mampu melakukan sprint (lari cepat) saat mendekati garis finish.
Bagi warga LDII di seluruh penjuru Bumi Blambangan, sepuluh malam terakhir Ramadan bukan sekadar hitungan mundur menuju Idulfitri, melainkan momentum untuk membuktikan “Mempersungguh”—sebuah komitmen totalitas untuk berburu pahala terbaik di puncak bulan suci.
Istilah mempersungguh bukan sekadar kata kerja teknis, melainkan sebuah mentalitas yang berakar kuat pada petunjuk Ilahi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Qadr: 1-3:
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ . وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ . لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Kesadaran akan besarnya nilai malam tersebut menuntut setiap individu untuk tidak sekadar hadir secara fisik di saf-saf masjid, namun juga hadir secara batin dengan kualitas ibadah yang terus mendaki.
Ujian Karakter di Penghujung Bulan
Ibarat seorang santri yang menghadapi ujian akhir, sepuluh malam terakhir ini adalah penentu kualitas “kelulusan” kita. Di sinilah Karakter Luhur kita benar-benar diuji: Jujur, sejauh mana kita jujur menilai niat di dalam hati, apakah murni karena Allah atau sekadar menggugurkan rutinitas?. Amanah, bagaimana kita bertanggung jawab memanfaatkan sisa waktu yang kian sempit dan berharga ini?. Mujhid-Muzhid, mampukah kita mengerahkan seluruh energi ibadah demi meraih rida-Nya, melampaui rasa kantuk dan lelah yang mulai mendera fisik?
Kita meneladani spiritualitas Rasulullah SAW yang justru meningkatkan intensitas ibadahnya saat kelelahan mulai melanda manusia pada umumnya. Sebagaimana hadis dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
“Rasulullah SAW apabila telah masuk sepuluh malam terakhir (Ramadan), beliau menghidupkan malamnya (dengan ibadah), membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Strategi “Mengencangkan Ikat Pinggang”
Di Banyuwangi, akhir Ramadan sering kali berbenturan dengan hiruk-pikuk persiapan mudik atau pasar yang kian padat. Namun, “mengencangkan ikat pinggang” berarti kecerdasan dalam memprioritaskan akhirat tanpa mengabaikan kewajiban duniawi.
Fokus jemaah harus tetap terjaga pada lima pilar utama keberhasilan:
• Sukses Puasanya: Menjaga kualitas puasa agar pahalanya tidak “bocor” akibat urusan lisan (ghibah) atau penyakit hati.
• Sukses Salat Tarawihnya: Mengejar qiyamul lail dengan khusyuk di masjid-masjid binaan, sembari memaksimalkan iktikaf sebagai sarana kontemplasi diri.
• Sukses Tadarus Al-Qurannya: Terus membasahi lidah dengan kalamullah hingga mencapai target khatam dan pendalaman makna.
• Sukses Lailatul Qadarnya: Konsistensi beribadah di setiap malam ganjil dan genap dengan penuh harap akan ampunan Allah.
• Sukses Zakat Fitrahnya: Menunaikan kewajiban sedini mungkin sebagai bentuk pembersihan jiwa sekaligus manifestasi kepedulian sosial.
Penutup: Kesempatan Terakhir
Marilah kita jadikan masjid-masjid kita—mulai dari ujung Utara di Wongsorejo hingga kaki gunung di Kalibaru—sebagai saksi bisu perjuangan spiritual kita. Jangan biarkan fokus kita terdistraksi oleh euforia persiapan lebaran yang bersifat sementara.
Ingatlah, Ramadan tahun depan belum tentu menyapa kita kembali. Maka, perlakukanlah sepuluh malam ini seolah-olah ini adalah kesempatan terakhir kita untuk mengetuk pintu langit dan merengkuh ampunan-Nya.
Selamat mempersungguh, selamat beriktikaf. Semoga kita semua keluar dari madrasah Ramadan ini sebagai pemenang yang meraih predikat takwa yang sebenar-benarnya.
LDII BANYUWANGI Official ldii banyuwangi